Blog seputar baju muslim mukena dan tas rajut modern murah lokal jogja bisa pesan juga harga grosir jogja jakarta

Minggu, 26 Januari 2014

Sejarah Tas Rajut Kaboki


EMBRIO
Pasar Seni Kuta Bali , 1989
Mimpi menginternasionalkan kerajinan Indonesia mulai dirajut.
Pertemuan seorang pemuda Indonesia dengan pemuda asal Amerika kemudian menjadi cikal bakal dikenalnya produk rajut Indonesia di luar negeri.
Diwujudkan dengan terbentuknya dua perusahaan yang saling bermitra, yaitu PT. Velesia selaku produsen berdomisili di Bali Indonesia dan Indonesian Import Inc./ The Sak selaku importir berdomisili di San Fransisco USA sebagai kantor pusat dan Bali sebagai representative office.
ERA TAS KULIT
Tas berbahan dasar kulit paling populer saat itu. PT. Velesia mengkombinasikannya dengan bermacam kekayaan lokal Indonesia seperti agel, tikar rotan Kalimantan, songket Palembang, ulos Batak, pahikung Sumba dan tapis Lampung.
Selain melayani Indonesian Imports Inc. yang mengeluarkan merek Elliot Lucca untuk jenis produk ini, PT. Velesia juga bekerjasama dengan beberapa importir dan merek lain seperti Sunda Bay yang berbasis di California dan Philip Collection yang berbasis di Miami, USA.
ERA TAS RAJUT
Persaingan tas kulit semakin menguat. PT. Velesia mulai melirik alternatif bahan baku lain.
Pada tahun 1994, tas ‘ulatan’ – yang berarti anyaman atau rajutan dalam istilah Bali – mulai diperkenalkan.
Benang nylon dipilih sebagai bahan utama, dengan jaminan support mitra perusahaan dalam negeri  yang hingga kini loyal menyediakan benang untuk PT. Velesia.
Oleh Indonesian Import Inc. selaku mitra importir, tas rajut ini diberi label The Sak.
KELOMPOK BINAAN
Tas rajut mendapat sambutan luar biasa di Amerika. Kemudian diikuti oleh negara-negara Eropa, Jepang dan Australia. PT. Velesia melakukan pembenahan internal sebagai langkah antisipasi. Tim Sample diperkuat, diimbangi dengan percepatan pembentukan sentra-sentra pengrajin baru di berbagai daerah.
Tim kreatif PT. Velesia mengalami masa-masa yang sangat berat kala itu. Seluruh sumber daya dikerahkan dalam proses inventarisasi calon daerah binaan, eksekusi pelatihan, hingga proses pendampingan sampai binaan tersebut mampu berproduksi.
Pada puncaknya, jumlah pengrajin binaan PT. Velesia melewati angka tiga ribu orang. Tersebar mulai pulau Bali,  Jawa Timur dan Jawa Barat.
Seluruh hasil produksi dari kelompok-kelompok binaan tersebut kemudian dikirim ke fasilitas produksi PT. Velesia untuk proses sortir, finishing dan final check. Fasilitas produksi ini awalnya berada di Denpasar-Bali. Kemudian dipindah ke Kuta-Bali pada 1998. Kemudian direlokasi ke Pasuruan-Jawa Timur pada 2007, yang sekarang dikenal dengan “Wisata Tas Rajut Kaboki.
PENGEMBANGAN
Proses finishing ala home industry sudah tak mampu mengimbangi peningkatan volume pekerjaan. PT. Velesia merelokasi fasilitas finishing ke pabrik yang lebih luas di Kuta Bali. Peralatan kerja ditambah dan diperbaharui. Sistem kerja dirubah menjadi sistem line.
Dari sisi produk, berbagai variasi dan terobosan terus dilakukan untuk menjaga dan mengembangkan pasar. Polypropylene diujicoba untuk menggantikan nylon sebagai bahan dasar benang, warna yang semula hanya terbatas pada warna-warna dasar dikembangkan hingga ratusan pilihan warna, kain pelapis bagian dalam tas yang semula standar ditingkatkan ke jenis waterproof.
Disaat yang bersamaan, Indonesian Import Inc. selaku mitra importir melakukan penguatan pasar di luar negeri dengan memperkenalkan label-label baru seperti Lina dan Luxy mendampingi The Sak.
Sementara di dalam negeri, PT. Velesia juga menjalin kerjasama dengan beberapa customer. Antara lain mensupply panel tas untuk PT. Harmoni dan mengerjakan produk tas wanita untuk PT. Sophie Martin Indonesia pada tahun 2009.
KOMITMEN
Hingga tahun 2000-an, sangat sulit menemukan tas rajut produk PT. Velesia di dalam negeri. Kalaupun ada, itupun cinderamata dari luar negeri. Hal itu dikarenakan seluruh output produksi pada masa itu merupakan pesanan customer luar negeri. Dan PT. Velesia berkomitmen untuk menjaga kepercayaan tersebut dengan tidak menjual merek mereka di dalam negeri. Sekaligus ikut andil menjaga nama baik produsen Indonesia di mata internasional.
Untuk melayani pasar dalam negeri, PT. Velesia mendaftarkan merek Kaboki ke Departemen Kehakiman dan HAM RI pada tahun 2001. Dan pada April 2002, Merek Kaboki resmi terdaftar atas nama PT. Velesia dengan sertifikat bernomor 504108 .
Namun, mengingat keterbatasan prasarana dan sumber daya yang hampir seluruhnya diserap untuk memenuhi permintaan pasar luar negeri, produksi dan pemasaran Kaboki masih sangat terbatas.
Baru pada Tahun 2007, setelah PT. Velesia merelokasi pabrik dari Bali ke Pasuruan, Kaboki mulai digarap secara khusus. Pabrik baru ini berdiri diatas areal 3.800 m2, meliputi gedung kantor, line produksi dan gudang bahan baku.
Dengan penambahan factory outlet dan fasilitas pendukung, lokasi ini sekarang dibuka untuk umum sebagai  “Wisata Tas Rajut Kaboki

Sejarah Tas Rajut Kaboki Rating: 4.5 Diposkan Oleh: kebaya modern

0 komentar:

Poskan Komentar